HUKUM MELAKSANAKAN DUA AMAL DENGAN SATU NIAT
Bolehkah kita melaksanakan dua amal sekaligus dalam satu niat, misalnya ibadah kurban sekaligus aqiqoh ?
Jahid Purbalingga
Al-hamdulillah wassholatu wasalamu ’ala Rosulillah sholallohu ’alaihi
wasalam.
Berkaitan dengan isytiroqun-niyah ( menggabung dua niat dalam satu amalan )
para ulama’ memberikan penjelasan sebagai berikut :
1.
Jika penggabungan tersebut terjadi pada dua amalan
yang satu ibadah sedang yang lain bukan merupakan ibadah sperti jika seseorang
menyembelih dengan niat berkurban untuk Alloh dan selain Alloh maka ibadahnya
batal. Tetapi jika sesuatu yang bukan ibadah tersebut merupakan hasil dari
suatu pelaksanaan ibadah maka hal itu tidak mengapa misalnya, orang yang
berwudhu atau mandi janabat sekalian supaya badanya fresh maka wudhu atau
mandinya sah karena niat yang lain ( fresh ) tidak membatalkan niat wudhu atau
mandi dan baik dengan niat atau tidak kesegaran itu akan didapatkan oleh orang
yang berwudhu atau mandi.
2.
Jika penggabungan tersebut terjadi pada amalan
wajib dan amalan sunnah, dalam hal ini ada beberapa bentuk :
a.
Diterima seluruhnya, Jika tidak bertentangan salah
satunya maka keduanya adalah boleh, seperti orang yang mandi janabah sekalian diniatkan
mandi jum’at, atau puasa arofah diniatkan pula untuk nyahur hutang puasa, atau
puasa nadzar maka keduanya sah.
b.
Yang diterima yang wajib saja, seperti jika
seseorang tertinggal sholat isya’ kemudian ia sholat isya’ sekaligus sholat
tarowih, maka yang diterima adalah sholat isya’nya saja.
c.
Yang diterima justru sunnahnya saja, seperti jika
seseorang mengeluarkan harta dengan niatan zakat sekaligus sedekah maka yang
diterima adalah sedekahnya saja.
d.
Batal keduanya ( amalan wajib dan sunnah tersebut
), hal ini seperti, jika seseorang melaksanakan sholat wajib sekaligus sholat
rowatib maka keduanya adalah batal.
3.
Menggabung dua niat dalam dua amalan yang
sama-sama wajib berjalan dalam satu pelaksanaan, sperti orang yang mandi
sekaligus berwudhu maka keduanya sah.
4.
Meniatkan pelaksanaan amal sunnah dengan niat amal
sunnah yang lain, jika dua sunnah tersebut masuk dalam satu waktu maka sah
pelaksanaanya, seperti orang yang menggabung antara sunnah tahiyatul-masjid dan
sunnah fajar. Tetapi jika kedua sunnah tersebut tidak masuk dalam satu waktu
maka tidak sah, seperti orang yang melaksanakan sholat dhuha sekaligus sebagai
qodho’ ( ganti ) dari sunnah fajar.
5.
Meniatkan sesuatu yang bukan ibadah dengan sesuatu
yang lain dan keduanya berbeda hukum, seperti orang yang mengatakan kepada
istrinya ” engkau haram bagiku ” dan ia niatkan perkataanya tersebut untuk
talak dan dhihar maka dia harus memilih salah satunya, antara talak atau
dhihar.
Kesimpulan : maka petanyaan saudara masuk dalam
daftar nomor tiga, jika pelaksanaanya terjadi dan masuk dalam satu waktu,
artinya aqiqoh tersebut bertepatan dengan pelaksanaan qurban maka tidak mengapa
menyembelih qurban plus niat aqiqoh, tetapi jika waktu aqiqoh tidak sesuai
dengan pelaksanaan qurban atau aqiqoh tersebut merupakan amalan qodho’ dari
waktu yang semestinya maka tidak boleh menggabungkan kedua niat tersebut dalam
satu waktu. Wallohu a’lam.
Lihat Fiqh Islami wa
adilatuhu juz 1 hal 162











Posting Komentar