Wanita dan Kue Apem
Segarnya udara pagi ini
berubah menjadi panas. Semua teman sekelas Sinta di FKIP Unlam gempar. Ternyata
ga cuma aku yang dapat SMS dari Sinta. Danu, Dodo, dan teman-teman yang lain
juga menerima SMS beautifulsick-nya Sinta. Yang lebih heboh lagi, Sinta benar-benar berubah. Bajunya yang dulu
sopan, sekarang entah ke mana, dia justru pake baju adiknya yang masih kelas 4 SD,
kerudungnya juga ilang. Kalau ditanya kenapa, dia bilang “Buat apa-apa
nutup-nutupin ketombe, jangan ditutupin, tapi diilangin” katanya meniru gaya
iklan di TV.
Sebenarnya itu semua dilakukan
Sinta bukan karena penentangannya terhadap aturan Allah. Semua itu dilakukannya
karena ketidak-tahuan. Mungkin Sinta masih belum tahu batas-batas aurat wanita,
dan bagaimana pergaulannya dengan lawan jenisnya. Apalagi saat ini aktivitas
seperti itu didukung penuh oleh media massa. Begitulah, media massa bisa membuat
orang yang baik menjadi jahat, sebaliknya ada juga media massa yang menyeru
orang jahat menjadi baik, dan orang baik menjadi lebih baik lagi.
“Maa Syaa
Allah…” aku cuma bisa mengurut dada. Danu dan Dodo tidak henti-hentinya
ber-istighfar. Ada apa dengan dikau, Sin?
Suasana pagi yang tak nyaman.
Selain Sinta, ada empat orang mahasiswi lainnya yang mempertontonkan auratnya
dengan gratis bagi siapa saja. Sungguh memuakkan. Meski bagi sebagian
mahasiswa, ini semua adalah karya seni yang mahal harganya. Tapi ini adalah
kemunkaran! Bagi yang mampu, hentikan dengan tangannya. Tapi sayangnya, saat
ini semuanya hanya berani mengingkari dengan hatinya, dan itu adalah
selemah-lemah iman.
Untuk mencairkan suasana yang
beku, aku ngajak Danu dan Dodo main tebak-tebakan.
“Ogaaaahhhh...” Teriak
keduanya kompak. Suasana kayak gini ngajak tebak-tebakan “Biariiinn…!” meski ga
dapat respon dari temen-temen, aku tetep aja dengan semangat 45 mengeluarkan
tebak-tebakan andalanku. Hitung-hitung sambil nunggu dosen.
“Gajah apa yang kakinya empat?
Nah, bingung kan? Apalagi Danu, pasti kamu gak bakal tau Nu,” aku mencoba
memancing emosi Danu.
“Gajah apaan yang kakinya
empat?” Akhirnya Danu yang tadi cuek, nyeletuk juga.
“Gajah yang kakinya empat?”
Kali ini Dodo yang nyeletuk.
Setelah yakin ga ada yang bisa jawab, terpaksa kubocorkan jawabannya.
“Gajah yang kakinya empat ya gajah normal! Payah!”
Tawa Danu dan Dodo menggeledek. Tapi buru-buru ditutup. Astagfirullah
kelepasan. Sebagian mahasiswa yang duduk
tak jauh dari kami ikut tersenyum mendengar kekonyolan kami. Selain dikenal
sebagai aktivis mahasiswa Muslim, kami juga dikenal sebagai mahasiswa yang
kocak.
Merasa diperhatikan oleh yang
lain, ga cuma Dodo dan Danu, aku melancarkan tebakan lagi sama temen-temen.
Kali ini dengan suara lebih keras, biar
yang lain bisa dengar juga.
“Eh temen-temen, kue apa yang
bungkusnya di dalem?!!!”
“Dim, yang namanya kue di
mana-mana bungkusnya di luar, gimana sih?” sahut Danu sewot..
“Aku tau jawabannya” Dodo yang
sedikit lebih pintar dibanding Danu berdiri seraya mengacungkan
telunjuknya.
“Apaan?” tantangku
“Kue yang bungkusnya di dalam
itu…kue salah bikin kan, Dim?!”
Aku mengangguk membenarkan.
“Yesss..berhasil!” Dodo senang
banget bisa menjawab tebak-tebakanku. Jarang banget loh. Tinggallah Danu yang
terpekur dalam, merenungi kekalahannya.
“Kacciaaaan deh lo” Ejek Dodo
sambil menari-narikan telunjuknya di depan idung Danu. Danu segera menangkap
telunjuk Dodo dan memuntirnya.
“Waddaww!” Pekik Dodo
kesakitan. He…he…rasain. Danu tertawa.
Sudah jam delapan lewat lima
belas menit, tapi Bu Aisyah yang hari ini mengajar Aljabar Linier masih belum
juga keliatan batang hidungnya. Masih ada kesempatan.
“Ngomong-ngomong soal kue nih,
aku punya cerita loh.., mau kan ?
“Gak mauuuu..” teriak Panji
yang duduk di pojok belakang. Dasar Panji! Duduknya deket cewek melulu. Ya
Allah...
“Hah..gak mau? Biarin! yang
penting aku mau cerita. Gini, kamu percaya gak kalau cewek itu bisa kita ibaratin kue…?”
“Ah…Masa” tanpa sadar Nova nyeletuk.
Mulutnya membulat kebingungan.
“Iya... Gini, kue ada banyak macamnya, dari
kue yang levelan rendah sampai yang levelan tinggi. Pernah liat kue apem?”
telunjukku mengarah kehidung Panji yang duduk di sebelah Nova.
“Nah, kalian tau kan kue apem
itu gimana nasibnya? Dijual di sembarang tempat, dibolak-balik, dicolak
colek, terus kadang-kadang sering ada
bumbu tambahannya, lalat! Yang beli juga
dari kalangan rendahan. Nah, coba kita bandingin sama kue yang levelnya tinggi.
Ditaruh di etalase yang bebas lalat, yang bisa beli juga bukan orang
sembarangan. Cuma orang-orang tertentu yang bisa beli kue itu. Nah, cewek juga
gitu. Ada yang kelas rendahan, untuk cewek kelas ini, siapa aja bisa dapat, gak
terawat, auratnya gak ditutup, pokoknya semua tangan bisa meraba, membolak
balik, mencolak colek. Bahkan, kalau dibawa ke kantor polisi untuk mengetahui
sidik jari, bakalan ditemukan banyak sekali sidik jari di tubuh cewek seperti
ini. Berbeda dengan cewek yang menjaga harga dirinya dengan menutup aurat dan
pandangannya. Jenis cewek kayak gini masih langka banget, gak semua orang bisa
dapat cewek kayak begini. Sterilitasnya terjamin, gak ada yang bisa
menyentuhnya selain suaminya. Jadi, sekarang para cewek tinggal milih, mau jadi
cewek yang sekelas kue apem atau yang
dipajang di etalase-etalase restoran? Gampang kan?”
“Dapaaaat…” Tiba-tiba Danu
berteriak.
“Dapat apaan, Nu” tanya Dodo.
“Upil!” Jawab Danu santai
sambil menggulung upil sebesar jempol bayi.
“Uh…jorok
kamu!” Jitakan Dodo mampir di jidat Danu. Rasain!
Melihat kelakuan mereka, aku jadi gemes sendiri.
Melihat kelakuan mereka, aku jadi gemes sendiri.
“Hey! Kalian paham gak sih
ceritaku!!!?”
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Danu dan
Dodo menjawab lemas “Enggaaaaakk…”
“Huh payah, kalian”
Tapi ada seorang gadis yang
tidak ikut geleng-geleng kepala. Wajahnya
tertunduk. Terdengar sesenggukan dari arahnya, Air matanya membasahi meja
kuliahnya, dan mengalir ke pahanya yang terbuka. Dialah Sinta, yang konon kena
penyakit cantik turunan.
Aku, Danu dan Dodo saling
berpandangan penuh arti, ”Alhamdulillah…” Kompak kami mengucap syukur. Lega deh, satu tugas wajib telah selesai.
Menyeru yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.
Selang beberapa menit, Bu
Aisyah datang dengan setumpuk buku modul kuliah di pelukannya. Suasana hening
seketika, membuat langkah kaki Bu Aisyah terdengar jelas di telinga.
“Selamat pagi”, Dosen
berkacamata besar itu membuka perkuliahan.
Dhut......
Tanpa bisa ditahan, suara
merdu itu keluar dari pantat Danu.











Posting Komentar